Pendaki Gunung Argopuro Asal Sumenep Dikabarkan Meninggal Dunia, Diduga Karena Hipotermia di Puncak
--
NAEWU.com – Seorang pendaki Gunung Argopuro asal Kabupaten Sumenep berinisial JL, 26, meninggal dunia Rabu 5 Agustus 2026. Ia diduga mengalami hipotermia. Korban meninggal ketika proses evakuasi dari kawasan puncak Argopuro melalui pintu Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban mendaki Gunung Argopuro melewati pintu pendakian Baderan, Kabupaten Situbondo.
Akan tetapi, belum ada informasi kapan korban naik melalui Baderan. Lalu Selasa 4 Agustus 2026 sekitar pukul 10.00, seorang relawan Pos Pendakian Dusun Selatan, Desa Bermi, menerima laporan bahwa JL mengalami hipotermia di kawasan puncak Argopuro.
Baca juga: Profil dan Biodata Joanna Alexandra yang Jadi Sorotan Usai Menikah Lagi dengan Immanuel Christover
Menerima informasi tersebut, relawan segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Meminta izin guna melakukan operasi penyelamatan melalui jalur pendakian Bermi.
Sekitar 1,5 jam seusai proses koordinasi tersebut, korban langsung dievakuasi dari puncak menuju jalur pendakian Bermi. Akan tetapi dalam proses evakuasi tersebut kondisi korban terus memburuk.
Sampai akhirnya Rabu 5 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00, JL tidak dapat bertahan. Dia meninggal ketika perjalanan menuju pintu pendakian Bermi.
"Balai Besar KSDA Jawa Timur mengucapkan belasungkawa
sedalam-dalamnya atas berpulangnya, Jailani, Pendaki SM Dataran Tinggi Yang asal Kab. Sumenep," tulis @bbksda_jatim_official yang dilansir JatimNetwork.com.
Baca juga: Selamat! Unggah Foto USG dan Baby Bump, Irish Bella Dikabarkan Tengah Hamil
Penyebab Jaelani meninggal dunia pun mejadi sorotan publik. Laporan terkait kondisi Jailani diterima petugas Pos Bermi pada 4 Agustus 2026.
Menurut keterangan BBKSDA Jatim, Jailani mengalami gejala sakit hipotermia berat sejak di Rawa Embik ketinggina 2750 mdpl sampai dengan di Puncak ketinggian 3088 mdpl.
Tim gabungan dengan sigap bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Segala upaya penyelamatanpun dilakukan di tenga meda yang berat dan cuaca yang cukup ekstrem.
Akan tetapi, nyawa korban tidak dapat tertolong. Jailani dinyatakan meninggal dunia pada 5 Agustus 2025 di lokasi. Evakuasi jenazah pendaki berumur 26 tahun kemudian dilakukan secara estafet sampai dengan berhasil keluar kawasan.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan sesuai prosedur di RSUD Waluyojati Kraksaan. Jenazah pun resmi diserahkan kepada pihak keluarga pada 6 Agutus 2026 untuk diberangkatkan menuju rumah duka.