PT Kertas Nusantara Milik Siapa? Viral Usai prabowo Diduga Taham Saham di Perusahaan Tersebut
--
NAEWU.com – PT Kertas Nusantara ikut menjadi perbincangan seusai pemerintah mengumumkan rencana memperbaiki buku pelajaran siswa Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas.
Nama perusahaan tersebut kemudian dikaitkan warganet dengan kebijakan tersebut karena PT Kertas Nusantara merupakan perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal berhubungan dengan bisnis Presiden Prabowo Subianto dan pada 2025-2026 sedang dipersiapkan untuk kembali beroperasi.
Akan tetapi, apakah perusahaan tersebut benar akan memproduksi buku-buku sekolah? Pertanyaan itu muncul usai Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kondisi fisik maupun isi buku ajar.
Dalam keterangan pemerintah pada Jumat, 7 Agustus 2026, Presiden meminta buku pelajaran Indonesia dibandingkan dengan buku dari sejumlah negara tetangga. Bukan hanya materi, ukuran huruf, desain, kualitas bahan dan daya tahan buku menjadi bagian yang akan diperbaiki.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa, “Intinya kita mau memperbaiki kualitas buku ajar bagi seluruh adik-adik peserta didik kita mulai dari SD, SMP, maupun SMA.”
Pemerintah bahkan sudah membentuk tim lintas kementerian yang melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan juga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
PT Kertas Nusantara Milik Siapa?
Sejarah perusahaan ini berawal dari PT Kiani Kertas, perusahaan pulp yang sebelumnya dimiliki pengusaha Mohamad “Bob” Hasan. Jusuf Kalla pada Januari 2024 bercerita tentang dirinya sempat membantu memfasilitasi Prabowo saat hendak membeli perusahaan tersebut dari Bank Mandiri.
Baca juga: Bus Transjatim Kecelakaan di Jalan Nasional Bypass Mojokerto, Pramugari Dikabarkan Tewas Ditempat
Baca juga: Mantan Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae Meninggal Dunia di Usia 70 Tahun
Menurut JK, transaksi dilakukan pada 2004 dengan nilai sekitar 150 juta dolar Amerika Serikat. Seusai berpindah tangan, Kiani Kertas kemudian dikenal sebagai PT Kertas Nusantara.
Kepemilikannya dalam perjalanan waktu bukan hanya dikaitkan dengan Prabowo seorang. Laporan mengenai struktur perusahaan pada 2007 mencatat Hashim Djojohadikusumo memegang 50 persen saham Kiani, sedangkan Prabowo melalui Fayola Investment Limited menguasai 49,99 persen serta sisanya 0,01 persen berada pada PT Metra Tujuh Dua.
Investigasi The Gecko Project berdasarkan catatan perusahaan yang ditelusuri sampai dengan 2024 juga masih menemukan Prabowo memiliki saham di PT Kertas Nusantara.
Kecurigaan warganet muncul sebab waktunya memang berdekatan: PT Kertas Nusantara sedang dihidupkan kembali, sedangkan Presiden Prabowo pada Agustus 2026 memerintahkan perbaikan fisik buku pelajaran dengan bahan yang lebih berkualitas.
Kendati demikian, hubungan langsung antara dua peristiwa tersebut belum terbukti. Bahkan perkembangan terbaru dari Berau pada 10 Agustus 2026 masih menyebut Kertas Nusantara sebagai salah satu perusahaan yang “akan buka”, yang mana belum ada dasar kuat untuk menyimpulkan perusahaan sudah memperoleh proyek buku ajar pemerintah.